Wednesday, August 1, 2012

Silaturahmi atau Silaturahim?



Silaturahmi suatu perbuatan yang dianjurkan oleh agama, terlebih dalam agama Islam. Hal itu sebagaimana dalam Alquran surat Annisa ayat 1 yang artinya,”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Demikian pula di dalam beberapa hadis terdapat anjuran untuk melaksanakan silaturahmi. Salah satunya seperti hadis berikut yang artinya,

“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi.” (H.R. Bukhari-Muslim).
Menjelang awal Ramadan dan awal Syawal, kata silaturahmi begitu populer. Hal itu berkaitan dengan tradisi baik umat Islam di Indonesia khususnya. Setiap menjelang Ramadan, ada sebagian umat Islam yang saling mengunjungi sanak saudaranya untuk bersilaturahmi. Apalagi, selesai Ramadan bakda salat sunah Idulfitri, mayoritas kaum Muslimin saling mengunjungi untuk bersilaturahmi pula.

Berkaitan dengan silaturahmi, di Indonesia juga terdapat tradisi mudik. Kata mudik diambil dari kata dasar udik yang berarti kampung halaman (lihat; KBBI daring). Dengan demikian, mudik diartikan pulang ke kampung halaman. Hal itu bertujuan sebagai ajang silaturahmi dengan kerabat yang berada di kampung halaman, umumnya dengan menggunakan momen Idulfitri.

Namun, apabila mencermati pengucapan dan penulisan kata silaturahmi, ternyata ada dua bentuk, yaitu silaturahmi dan silaturahim. Hal itu terus berlangsung dari tahun ke tahun dan menimbulkan “perdebatan santun” di antara sebagian penggunanya dan sebagian pemerhati bahasa.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daringtertulis silaturahmi berupa nomina diartikan sebagai tali persahabatan (persaudaraan). Ada pun kata silaturahim dalam kamus tersebut dirujuk kepada kata silaturahmi. Dengan demikian, KBBI lebih memilih kata silaturahmi daripada silaturahim.

Apabila dilihat dari sumber asal bahasanya, kedua kata tersebut merupakan serapan dari bahasa Arab, yaitu dari kata shilah/shilat(un) dan rohmu(rahmi)/rohim(rahim). Dalam kamus Alkalali (1987:469) (as)shilatu berarti sambungan. Sementara kata (ar)rohmu dalam kamus tersebut (1987:432) berarti rahim (peranakan) dan jamaknya (al) arhaam.

Kata (ar)rahmu apabila digabungkan menjadi frase dengan kata shilatu(un) akan membentuk kata shilaturrohmi; yang diserap menjadi silaturahmi [pada kata (ar)rahmu, huruf (ar) dibuang karena disambungkan dengan shilaut(un) dan akhir katanya yang berbunyi (mu) dikasrahkan sehingga menjadi (mi)].

Di dalam kamus Almunawir (1984:518—519), Mahmud Yunus (1973:139), dan An-Nur (1997:69) terdapat kata (1) rohima-(y)arhamu-rohmat(an) yang berarti mengasihi, menaruh kasihan; (2) Rohim(un) dan jamaknya arhaam yang berarti peranakan, rahim ibu, tali perkauman, persaudaraan. Khusus dalam kamus Almunawir terdapat pula kata (3) (ar)rohimu-(w)arrohmu yang berarti rahim, peranakan; (4) (ar)rohmatu-(w)arruhmaa-(w)arrohmu yang berarti belas kasih, rahmat; (5) (ar)roohimu-(w)arrohuumu-(w)arrohiimu yang berarti yang pengasih, penyayang, dan (6) (Ar)rohiimu-(w)almurohhamu: almarhum yang berarti yang dikasihi, disayangi.

Dari ketiga kamus tersebut (nomor 2), kata rohim(un) dan jamaknya arhaam yang berarti peranakan, rahim ibu, tali perkauman, dan persaudaraan tampak terdapat titik temu dengan kata (ar)rohmu ’rahim’ yang terdapat dalam kamus Alkalali. Simpulan dari titik temu tersebut bahwa kata rohim (un); yang diserap menjadi rahim dan rohmi; yang diserap menjadi rahmi, keduanya bisa berarti rahim. Dengan demikian, kata silaturahmi ataupun silaturahim mempunyai arti sama, yaitu sambungan rahim, tali perkauman, dan tali persaudaraan.

Sementara dalam kamus Almunawir (nomor 4) kata (w)arrohmu merupakan lema dari (ar)rohmatu yang berarti belas kasih, penyayang. Jadi, silaturrohmu(i) yang diserap menjadi silaturahmi bisa berarti sambungan belas kasih atau penyayang. Dan dalam kamus Alkalali (1987:235) pengasih adalah rohiim(un), sedangkan sayang (1987:477) adalah (ar)rohmatu yang di dalam kamus Almunawir (nomor 4) berarti belas kasih, rahmat. Jadi, baik silaturrohmi; silaturahmi maupun silaturrrohim/silaturrohiim;silaturahim bisa berarti pula sambungan belas kasih, sayang.

Berdasarkan hal tersebut, makna silaturahmi dan silaturahim adalah sama. Yaitu, bisa berarti menyambungkan rahim, menyambungkan atau mengikat tali persaudaraan, kekerabatan, persahabatan, ataupun menyambungkan kasih sayang. Di dalam KBBI daring yang digunakan adalah silaturahmi bukan silaturahim. Hal tersebut dimungkinkan,karena mayoritas masyarakat penggunanya lazimnya mengggunakan kata silaturahmi.***

Asep Juanda, staf teknis Balai Bahasa Bandung.
(Dimuat dalam koran Pikiran Rakyat, Minggu 5 September 2010)





sumber : klik disini



No comments:

Post a Comment

Jadilah anda yang pertama

Berita Terbaru