Thursday, August 9, 2012

Energi Al Quran Bisa Menghancurkan Gunung


Banyak umat Islam yang memperlakukan Al Qur’an dengan salah kaprah. Sehingga, kitab suci yang amat hebat ini tidak ditempatkan atau difungsikan sebagaimana mestinya. Kesalah-kaprahan itu semakin terlihat di bulan suci Ramadan. Sebuah bulan dimana kandungan hikmah Al Qur’an – yang masih berada di Lauh Mahfuzh – itu diturunkan ke Bumi.

Saya sering menyebutnya dengan istilah ‘umat Islam jauh dari Al Qur’an’. Meskipun, secara fisik kitab suci itu dibawa kemana-mana. Seorang kawan saya protes dengan istilah ‘jauh dari Al Qur’an’ itu. ‘’Saya ini dekat mas dengan Al Qur’an. Setiap saat kitab suci ini tak pernah jauh dari saya. Selalu saya bawa kemana pun saya pergi.’’


Ia memang mempunyai Al Qur’an saku yang dibawa kemana pun ia pergi. Ia juga punya Al Qur’an digital yang kini semakin ngetren, diinstal di HP dan laptopnya. Bahkan, di perpustakaan pribadinya ia memiliki sejumlah Al Qur’an terjemahan berbagai bahasa. Ya, dia memang ‘dekat’ dengan fisik Al Qur’an, tetapi belum tentu dekat dengan isi Al Qur’an. Apalagi hikmah yang terkandung di dalamnya.

Kedekatan kita dengan Al Qur’an bukan diukur secara fisikal, melainkan pada tataran penerapan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena kesalah-kaprahan dalam memahami kedekatan inilah, umat Islam mengalami kemunduran dalam peradaban dunia. Dulu, umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW yang diteruskan oleh para sahabat dan penerusnya, bisa menjadi pusat peradaban dunia. Negara superpower seperti Romawi dan Persia pun akhirnya tenggelam digantikan zaman keemasan Islam, selama ratusan tahun.

Sayangnya sejak abad ke 14 umat Islam mengalami kemunduran luar biasa, sekitar 700 tahun, sampai kini. Salah satu penyebabnya adalah SDM Islam tidak dibangun berdasarkan petunjuk-petunjuk Al Qur’an. Kitab ini hanya dijadikan pajangan-pajangan di rak-rak perpustakaan, diinstal di HP dan laptop, dilombakan bacaan indahnya dan dibaca khatam ‘cepet-cepetan’, bahkan tidak sedikit yang cuma menjadikannya sebagai mantera azimat alias pusaka penyelamat.

Allah sudah sangat jelas mengajarkan di dalam firman-Nya, bahwa Bacaan Mulia yang diturunkan di bulan suci Ramadan ini penuh dengan hikmah. Dan berisi petunjuk-petunjuk untuk menjadi solusi atas segala macam masalah manusia. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan atas petunjuk tersebut. ‘‘... bulan Ramadan, adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai PETUNJUK bagi manusia dan berisi PENJELASAN-PENJELASAN mengenai petunjuk itu...’’ [QS. Al Baqarah: 185].

Sayangnya, yang terjadi bukan menggali petunjuk-petunjuk itu dalam berbagai seminar atau kajian-kajian intensif, melainkan lebih kepada membaca indah, khatam bolak-balik tanpa memahami maksudnya, atau sekedar menjadi mantera-mantera tersebut. Apalagi di bulan Ramadan. Cobalah bandingkan seberapa banyakkah orang-orang yang mengkaji Al Qur’an terkait dengan isi dan hikmah yang terkandung di dalamnya? Bandingkan dengan orang-orang yang membacanya sekedar untuk mengejar target khatam berkali-kali. Sedikit sekali.

Lebih jauh, sebagian kita malah menjadikan Al Qur’an itu sebagai ‘sumber kesaktian’ tanpa memahami makna yang seharusnya. Misalnya, seorang kawan saya demikian kuatnya berpegang pada ayat Al Qur’an yang mengatakan bahwa energi Qur’an ini sangat besar, sehingga jika diturunkan ke gunung, gunung itu bisa hancur berantakan.  

'’ Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk hancur berantakan disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN itu Kami buat untuk manusia supaya mereka BERPIKIR.’’ [QS. Al Hasyr: 21]

Ada kesalahan mendasar yang dilakukannya dalam memahami ayat ini. Yakni, ia mengabaikan informasi Allah, bahwa cerita di atas adalah sebuah perumpamaan.Dia menanggapinya secara harfiah. Karena itu, ketika ada seorang kawannya yang membawa mushaf Al Qur’an ditaruh di atas sebuah gunung, gunung itupun tidak hancur. Karena, ayat di atas memang sudah menjelaskan bahwa itu adalah sebuah perumpamaan, dan kita disuruh berpikir untuk mengetahui maksudnya.

Saya katakan, energi Al Qur’an memang sangat besar dan bisa mengubah dunia seperti yang telah terjadi ratusan tahun yang lalu. Tetapi, energi tersebut bukan terletak di tulisan atau lembaran-lembarannya secara harfiah seperti itu. Sehingga, lantas ada yang menggunting lembaran-lembaran kitab Al Qur’an untuk dijadikan jimat. Atau, malah ada yang membakarnya, dan abunya diminum segala. Dan dia sudah merasa memperoleh energi dari dalam Al Qur’an. Bukan begitu. Energi yang besar di dalam kitab suci ini bukan terdapat di tulisannya itu, melainkan di dalam maknanya.

Barangsiapa memahami maknanya, dan kemudian menjalankannya dalam kehidupan nyata, maka sungguh dia telah memperoleh energi ilahiah yang luar biasa besarnya. Dia akan memiliki kemampuan hebat untuk mengubah peradaban. Baik secara fisikal maupun secara moral. Dialah pemimpin yang telah memperoleh petunjuk Sang Maha Berilmu dan Maha Berkuasa dalam segala tataran wilayah perbuatannya. 

’Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal kebajikan. Bagi mereka ada pahala yang besar.’’ [QS. Al Israa’: 9] Wallahu a'lam bishshawab.

sumber : klik disini

No comments:

Post a Comment

Jadilah anda yang pertama

Berita Terbaru