Monday, August 13, 2012

Alloh pun Tak Mau Memaksa


Betapa kelirunya jika kita beragama dengan cara memaksa. Karena, ternyata Allah pun tak mau memaksa seseorang dalam menjalankan agamanya. Semua harus berangkat dari kesadaran, bukan dari keterpaksaan. Sehingga, proses spiritualitas seseorang dalam meningkatkan kualitas beragamanya adalah seiring dengan proses meningkatnya kesadaran dan berserah diri kepada-Nya. Bukan membesarnya rasa keterpaksaan dalam menjalankan ibadah.

Beragama dengan cara terpaksa adalah percuma. Dia tidak akan pernah berserah diri kepada-Nya, melainkan malah memupuk rasa keingkaran dalam jiwa. Tentu saja ini berlawanan dengan kata ‘Islam’ yang bermakna berserah diri hanya kepada Allah. Sungguh, kualitas berserah diri itu tidak akan pernah bisa dicapai oleh orang-orang yang merasa terpaksa dalam beragama. Keberserah-dirian hanya bisa dicapai oleh orang menjalaninya dengan keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan pengorbanan.


Di dalam berbagai ayat, Allah menjelaskan hal itu. Diantaranya dalam ayat berikut ini. ‘’Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, pastilah beriman orang-orang di muka bumi ini, seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman, semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.’’ [QS. Yunus: 99-100].

Ayat diatas sangat gamblang bercerita bahwa Allah memang tak hendak memaksa manusia beriman kepada-Nya. Siapa saja diberi kebebasan untuk memilih apa yang dimauinya.Tentu saja dengan segala konsekuensinya. Padahal sebagai Sang Pencipta yang berkuasa mutlak, Allah sangat bisa memaksakan kehendak-Nya. Dan, kemudian tak ada orang-orang yang mengingkari-Nya. Semuanya bersujud kepada-Nya. Apa susahnya buat Dia. Tapi Allah tidak melakukan semua itu.

Allah saja tak memaksa, kenapa kita lantas main paksa kepada sesama untuk menjalani agama? Hal itu diungkapkan dengan kalimat yang sangat eksplisit dalam ayat di atas: ‘’apakah kamu hendak memaksa manusia untuk beriman seluruhnya?’’ Tak ada gunanya. Bukan itu yang dikehendaki oleh-Nya. Seseorang bisa saja dipaksa untu melakukan shalat, puasa, zakat, haji, dzikir, berdoa, dan ibadah apa saja. Tapi sungguh, semua itu tak berguna. Karena mereka akan menjalankannya sebagai ritual belaka, yang tak membekas ke dalam jiwanya. Hasilnya, bukan kualitas berserah diri kepada-Nya, melainkan pemberontakan diam-diam , yang terus menerus terjadi di dalam jiwanya.

Beragama harus terjadi seiring dengan kesadaran. Memupuk kepahaman. Yang menghasilkan keyakinan. Bukan cuma ‘ilmul yaqin, melainkan harus meningkat ke ‘ainul yaqin, dan berujung dihaqqul yaqin. Keyakinan dan kepahaman yang tiada tergoyahkan. Orang-orang yang sudah merasakan sendiri bahwa beragama adalah sebuah jalan pembebasan dari keterbelengguan duniawi. Diperolehnya kemerdekaan yang hakiki, karena dia telah bersama Allah Sang Penguasa jagat semesta, Sang Maha Berilmu lagi Maha Bijaksana.
                 
‘’Tidak ada paksaan dalam  beragama. Sungguh telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa mengingkari thaghut (tuhan selain Allah) dan beriman hanya kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat, yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Berilmu.’’ [QS. Al Baqarah: 256].

Sekali lagi, lewat ayat ini, Allah menegaskan bahwa beragama tidak boleh dilakukan dengan terpaksa. Kalau terpaksa, berarti belum beragama dengan benar. Shalatnya terpaksa, dzikirnya terpaksa, puasanya terpaksa, zakatnya terpaksa, menolong orang terpaksa, dan semua aktifitas ibadahnya terpaksa. Itu belum menunjukkan proses beragama yang benar.

Yang harus dilakukan, kata ayat di atas, adalah membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang tersesat. Istilah yang dipakai dalam ayat tersebut adalah: qad tabayyana rrusydu minal ghayyi ~ sungguh sudah jelas antara kebaikan dan keburukan. ‘Tabayyana’ itu bermakna klarifikasi dan cross-check. Maksudnya, beragama memang tidak boleh asal percaya dan ikut-ikutan belaka. Harus dikaji dengan akal sehat, diklarifikasi, dan di-cross-checkkebenarannya ke sumber-sumber yang otentik.

Jika sudah jelas valid, kesimpulannya akan menjadi kepahaman dalam menjalani agama. Dan kemudian memunculkan keyakinan yang tiada tergoyahkan. Dalam istilah ayat di atas, kita seperti berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak bisa putus. Hidupnya tidak terombang-ambing oleh ketidak-pastian. Karena dia telah mengikuti cara Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Berilmu.Wallahu a’lam bishshawab.

sumber : klik disini

No comments:

Post a Comment

Jadilah anda yang pertama

Berita Terbaru